I. Pendahuluan

Manusia adalah hamba Allah SWT yang diberi tugas sebagai khalifah-Nya di muka bumi ini. Oleh Allah manusia dianugerahi akal pikiran dan hawa nafsu (emosi) sehingga ia berbeda dengan makhluk Allah yang lain seperti malaikat, jin dan binatang.[1]

Di samping itu, manusia mempunyai kemauan dan kehendak untuk memenuhi kebutuhan hidup sesuai dengan nafsu (emosi) dan akal pikirannya. Dengan akal pikiran dan nafsu, manusia terdorong untuk saling berhubungan dan mendayagunakan antar sesamanya.[2]

Agar di dalam memenuhi kebutuhan sosial di atas berjalan dengan lancar dan tertib, Allah SWT menurunkan syari’at Islam berupa al-Qur’an dan Sunnah Nabi SAW[3] serta memberi kesempatan kepada manusia untuk menggunakan akal pikirannya dalam memahami syari’at Allah tersebut.[4] Kemudian, dari optimalisasi fungsi akal pikiran tersebut, muncullah proses penalaran deduktif terhadap kedua sumber dasar Islam yaitu ;  al-Qur’an dan Sunnah   sehingga menghasilkan produk hukum Islam yaitu al-Fiqh al-Islamy.

Hukum Islam sebagian besar adalah produk ijtihady ulama. Mereka mengerahkan seluruh potensi akalnya untuk menggali hukum-hukum yang tergandung di dalam al-Qur’an dan Sunnah. Namun demikian seluruh produk hukum yang dihasilkan mereka tentu tidak terlepas dari situasi dan kondisi yang mengitarinya. Oleh karena itu tidak semua masalah hukum yang muncul pada zaman sekarang terdapat ketetapan hukumnya pada zaman dulu. Dari perbedaan sikon tersebut akan memunculkan produk-produk hukum yang baru, atau merupakan pengembangan dari produk hukum sebelumnya.

Di antara masalah-masalah baru yang muncul abad ini adalah masalah narkotika dan psikotropika. Dalam hukum Islam (fiqh zaman dulu) masalah narkotika dan psikotropika secara eksplisit tidak terdapat ketentuan hukumnya. Karena, narkotika dan psikotropika merupakan masalah kontemporer yang muncul pada beberapa abad terakhir ini. Kalau masalah tersebut secara eksplisit tidak disinggung dalam fiqh, tentu saja secara eksplisit pula tidak terdapat dalam al-Qur’an dan Sunnah Nabi SAW tentang ketentuan hukumnya. Namun, secara implisit substantif,  kedua masalah kontemporer itu terdapat ketentuan hukumnya baik dalam al-Qur’an –Hadist  maupun dalam pembahasan fiqh ulama masa lampau.

Makalah yang sederhana ini akan mencoba menguraikan tinjauan hukum Islam terhadap masalah narkotika dan psikotropika yang sangat berbahaya bagi kehidupan masyarakat dan bangsa Indonesia tercinta ini.

II. Narkotika dan Psikotropika (Narkoba) menurut Hukum Positif di Indonesia

Kata ‘Narkoba’ merupakan gabungan dari kata ‘narkotika’ dan ‘obat-obatan berbahaya’ (psikotropika). Pengertian narkotika menurut undang-undang di Indonesia  adalah :

 “Zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan baik sintesis atau semi sintesis yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri, dan dapat menimbulkan ketergantungan, dan dibedakan ke dalam golongan I, II, dan III sesuai dengan keputusan Menteri Kesehatan RI”.[5]

Sedangkan psikotropika mempunyai definisi yang berbeda yaitu :

“Zat atau obat, baik alamiah maupun sintesis bukan narkotika, yang berkhasiat psikoaktif melalui pengaruh selektif pada susunan syaraf pusat yang menyebabkan perubahan khas pada aktifitas mental dan perilaku pemakainya, dan digolongkan ke dalam golongan I, II, III, dan IV sesuai dengan ketetapan Menteri Kesehatan RI”.[6]

Dari kedua pengertian tersebut, antara narkotika dan psikotropika sama-sama mempunyai perbedaan dan persamaan. Persamaannya adalah sama-sama mengakibatkan ketergantungan terhadap pemakai dan menghilangkan kesadaran akal pikirannya. Sedangkan perbedaannya adalah narkotika tidak berkhasiat psikoaktif yang menyebabkan sindroma ketergantungan mental yang menakutkan. Adapun jenis-jenis narkotika dan psikotropika sebagaimana digolongkan dalam golongan masing-masing dapat dilihat pada ketetapan Menteri Kesehatan RI (sebagaimana terlampir).

Para pengguna narkotika dan psikotropika pada umumnya mempunyai gejala perubahan yang berarti dalam kesehariannya. Gejala-gejala penyalahgunaan narkoba dapat diketahui pada perubahan tingkah laku, mood, perhatian pada sekitarnya, sangat tergantung pada orang lain, mengalami ilusi yang tinggi dan lain sebagainya. Dari gejala-gejala itu kemudian si pemakai akan mengalami ketergantungan fisik dan psikis terhadap narkoba. Manakala ia tidak mengkonsumsi narkoba, fisiknya akan mengalami gangguan pencernaan, berat badan menurun drastis, susah tidur, abses kulit, dan rentan sekali tertular virus HIV AIDS, karena cenderung berganti-ganti jarum suntik. Lalu kondisi psikisnya sering mengalami depresi, takut, bingung, putus asa, emosi tak terkontrol, kelelahan mental dan lain sebagainya.[7]

Dengan mencermati uraian di atas, perlu sekali upaya-upaya preventif dilakukan oleh setiap individu dan masyarakat, seperti membentuk kegiatan edukatif-agamis dan kontrol ketat terhadap tempat-tempat transaksi atau produksi kedua barang haram itu. Upaya-upaya preventif tersebut harus melibatkan secara aktif semua komponen masyarakat dan instansi pemerintah.

Disamping upaya-upaya preventif, sangat perlu juga upaya represif ditegakkan. Upaya represif tersebut adalah penegakan hukum secara sungguh-sungguh, baik hukum positif maupun hukum Islam. Dalam hukum positif di Indonesia untuk masalah narkotika dan psikotropika dapat diberlakukan UU No. 22/1997 tentang narkotika dan UU No. 5/1997 tentang psikotropika dengan menerapkan secara konsekuen beberapa pasal yang terdapat di dalamnya.

Dalam KUHP pasal 204 ayat (1), hukum yang dapat diterapkan pada masalah narkotika dan psikotropika yaitu :

 “Barang siapa menjual, menerima, atau membagi-bagikan barang, sedang diketahui barang tersebut berbahaya bagi jiwa atau kesehatan orang dan berbahaya itu didiamkan, dihukum penjara selama-lamanya 15 (lima belas) tahun”.

Selain KUHP, dalam UU RI No. 5/1997 tentang psikotropika terdapat beberapa pasal yang mengancam dan dapat diterapkan untuk penegakan hukum bagi penyalahgunaan psikotropika[8], yaitu :

Pasal 62 “ Barang siapa secara tanpa hak, memiliki, menyimpan dan atau membawa psikotropika dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan pidana denda paling banyak Rp. 100.000.000,- ( seratus juta rupiah)”.

Pasal 65 “ Barang siapa tidak melaporkan adanya penyalahgunaan dan atau pemilikan psikotropika secara tidak sah dipidana penjara paling lama 1 (satu) tahun atau denda paling banyak Rp. 20.000.000,- (dua puluh juta rupiah)”.

Pasal 68 “ Tindak pidana di bidang psikotropika sebagaimana diatur dalam undang-undang ini adalah kejahatan”.

Pasal 72 “ Jika tindak pidana psikotropika dilakukan dengan menggunakan atau ketika melakukan tindak pidana belum lewat 2 tahun sejak selesai menjalani seluruhnya atau sebagian pidana penjara yang dijatuhkan kepadanya, ancaman pidana ditambah seperti pidana yang berlaku untuk tindak pidana tersebut “.

Selanjutnya dalam UU RI No. 22/1997 tentang narkotika terdapat juga beberapa pasal yang mengancam penyalahgunaan narkotika. Pasal-pasal tersebut[9],  adalah :

Pasal 78 ayat 1, “Barang siapa tanpa hak dan melawan hukum menanam, memelihara, mempunyai dalam persediaan, memiliki, menyimpan atau menguasai narkotika golongan I dalam bentuk tanaman atau bukan dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan denda paling banyak Rp. 500.000.000,-  (lima ratus juta rupiah)”.

Pasal 79 ayat 1a dan b, “Barang siapa tanpa hak dan melawan hukum memiliki, menyimpan untuk dimiliki atau persediaan atau menguasai narkotika golongan II dipidana penjara paling lama 7 (tujuh) tahun dan denda paling banyak Rp. 250.000.000,- (dua ratus lima puluh juta rupiah), dan atau menguasai  narkotika golongan III, dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan denda paling banyak Rp. 100.000.000,- (seratus juta rupiah)”.

Demikian upaya-upaya represif yang diperlukan untuk penegakan hukum di Indonesia bagi penyalahgunaan narkotika dan psikotropika. Untuk lebih jelasnya dapat dikaji kembali kedua undang-undang tersebut di atas berikut pasal-pasal di dalamnya dan penjelasan-penjelasannya. Supremasi hukum tersebut harus benar-benar ditegakkan oleh aparat hukum dan semua masyarakat, karena narkoba tersebut sangat berbahaya khususnya bagi masa depan generasi muda penerus pembangunan bangsa Indonesia. Tanpa penegakan hukum secara sungguh sungguh terhadap penyalahgunaan narkoba, kita tinggal menunggu tragedi kemanusiaan yang paling mengerikan di abad ini.

III. Narkoba Dalam Perspektif Hukum Islam  (al-Fiqh al-Islamy)

Pada zaman permulaan Islam istilah narkotika dan psikotropika (obat-obatan berbahaya) belum kenal dan diketahui. Adapun yang telah menjadi tradisi masyarakat pra- Islam dan masyarakat permulaan Islam adalah istilah istilah khomer (minuman keras memabukkan), maisir (perjudian), al-Anshab (pengorbanan terhadap berhala) dan al-Azlam (mengundi nasib dengan panah).[10]

Dari tradisi-tradisi di atas, -selain tradisi-tradisi jelek lainnya-  khomerlah yang lebih mendekati pengertian dan fungsinya dengan narkotika dan psikotropika, kendatipun tidak sama persis. Persamaannya adalah terletak pada fungsi memabukkan dan menghilangkan akal pikiran pemakainya. Sedangkan perbedaannya, narkotika dan psikotropika lebih berkasiat sebagai obat dan mengakibatkan sindroma ketergantungan mental yang lebih parah dan degradasi fisik yang cepat bagi penggunanya. Pengertian khomer -menurut istilah-  sebagaimana dalam kitab-kitab fiqh adalah :

“Segala sesuatu yang memabukkan (menghilangkan kesadaran akal pikiran) bagaimanapun bentuknya, dan dikonsumsi baik dengan cara meminum atau memakannya dalam pengertian yang luas. Setiap yang memabukkan adalah haram menurut hukum Islam”[11].

Proses penetapan hukum haram terhadap khomer, didasarkan pada penalaran deduktif terhadap ayat-ayat al-Qur’an dan Hadist-hadist Nabi SAW yang saling berkait satu dengan lainnya. Dalam al-Qur’an dapat kita temui ayat ayat yang melarang meminum khomer sebagai berikut[12] :

وَأَنْفِقُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلَا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ وَأَحْسِنُوا إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik “.

يسألونك عن الخمر والميسر قل فيهما إثم كبير ومنافع للناس وإثمهما أكبر من نفعهما ويسألونك ماذا ينفقون قل العفو كذلك يبين الله لكم الآيات لعلكم تتفكرون(219)

Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah: “Pada keduanya itu terdapat dosa besar dan beberapa manfa`at bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfa`atnya”. Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: “Yang lebih dari keperluan.” Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berfikir“.

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لَا تَقْرَبُوا الصَّلَاةَ وَأَنْتُمْ سُكَارَى حَتَّى تَعْلَمُوا مَا تَقُولُونَ وَلَا جُنُبًا إِلَّا عَابِرِي سَبِيلٍ حَتَّى تَغْتَسِلُوا وَإِنْ كُنْتُمْ مَرْضَى أَوْ عَلَى سَفَرٍ أَوْ جَاءَ أَحَدٌ مِنْكُمْ مِنَ الْغَائِطِ أَوْ لَامَسْتُمُ النِّسَاءَ فَلَمْ تَجِدُوا مَاءً فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًا فَامْسَحُوا بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُمْ إِنَّ اللَّهَ كَانَ  عَفُوًّا غَفُورًا(43)

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan, (jangan pula hampiri mesjid) sedang kamu dalam keadaan junub, terkecuali sekedar berlalu saja, hingga kamu mandi. Dan jika kamu sakit atau sedang dalam musafir atau kembali dari tempat buang air atau kamu telah menyentuh perempuan, kemudian kamu tidak mendapat air, maka bertayamumlah kamu dengan tanah yang baik (suci); sapulah mukamu dan tanganmu. Sesungguhnya Allah Maha Pema`af lagi Maha Pengampun.

ياأيها الذين ءامنوا إنما الخمر والميسر والأنصاب والأزلام رجس من عمل الشيطان فاجتنبوه لعلكم تفلحون(90)إنما يريد الشيطان أن يوقع بينكم العداوة والبغضاء في الخمر والميسر ويصدكم عن ذكر الله وعن الصلاة فهل أنتم منتهون(91)

Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah perbuatan keji termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. Sesungguhnya syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan sembahyang; maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu).

وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ لَآمَنَ مَنْ فِي الْأَرْضِ كُلُّهُمْ جَمِيعًا أَفَأَنْتَ تُكْرِهُ النَّاسَ حَتَّى يَكُونُوا مُؤْمِنِينَ(99)وَمَا كَانَ لِنَفْسٍ أَنْ تُؤْمِنَ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ وَيَجْعَلُ الرِّجْسَ عَلَى الَّذِينَ لَا يَعْقِلُونَ

Dan jikalau Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya. Maka apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya? Dan tidak ada seorangpun akan beriman kecuali dengan izin Allah; dan Allah menimpakan kemurkaan kepada orang-orang yang tidak mempergunakan akalnya“.

Dari ayat-ayat di atas, para ulama menganalisis hukum khomer dengan instrumen ilmu ushul fiqh, sehingga menetapkan kesimpulan haram untuk mengkonsumsinya. Berdasarkan ayat-ayat dalam al-Qur’an, pengharaman khomer oleh Allah ditetapkan secara gradual. Pertama, Allah SWT hanya menjelaskan bahwa saripati anggur itu dapat digunakan sebagai hal yang memabukkan dan sebagai rizki yang baik[13].

Pada saat itu orang Islam masih meminum khomer. Karena ayat tersebut belum secara tegas melarangnya. Kedua, Allah menjelaskan bahwa di dalam khomer terdapat dosa besar dan beberapa manfaat bagi manusia[14]. Pada ayat kedua ini, sebagian orang Islam saat itu sudah mulai meninggalkan kebiasaan minum khomer, karena adanya penjelasan adanya dosa besar di dalamnya. Sedangkan sebagian lainnya masih meminum khomer karena terdapat penjelasan ayat : “ada beberapa manfaat didalamnya”.

Ketiga, Allah melarang orang Islam shalat dalam keadaan mabuk karena minum khomer[15]. Larangan meminum khomer ditegaskan tidak boleh jika dalam keadaan sedang salat Larangan meminum khomer di luar salat belum ditegas dan ditetapkan.

Keempat, Allah swt mempertegas lagi bahwa khomer adalah sesuatu yang keji, termasuk perbuatan syaitan dan kemudian Allah memerintahkan untuk memberhentikan kebiasaan minum khomer tersebut secara total[16]. Karena khomer merusak mental dan fisik peminumnya serta menimbulkan perbuatan-perbuatan sosial yang keji, saling bermusuhan dan merugikan diri sendiri maupun masyarakat pada umumnya[17].

Di samping argumentasi al-Qur’an, mereka (para ulama)  memperkuat ketetapan hukum khomer tersebut dengan beberapa hadis Nabi SAW yang secara jelas dan tegas menyatakan ‘keharaman’ segala sesuatu yang memabukkan. Hadis hadis tersebut dapat diperhatikan berikut ini[18]:

حَدِيثُ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ : سُئِلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ الْبِتْعِ فَقَالَ كُلُّ شَرَابٍ أَسْكَرَ فَهُوَ حَرَامٌ *

1. “Diriwayatkan daripada Saidatina Aisyah r.a katanya: Rasulullah s.a.w pernah ditanya tentang minuman yang dibuat daripada madu arak. Baginda menjawab: Setiap minuman yang memabukkan adalah haram”.

حَدِيثُ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كُلُّ مُسْكِرٍ خَمْرٌ وَكُلُّ مُسْكِرٍ حَرَامٌ وَمَنْ شَرِبَ الْخَمْرَ فِي الدُّنْيَا فَمَاتَ وَهُوَ يُدْمِنُهَا لَمْ يَتُبْ لَمْ يَشْرَبْهَا فِي الْآخِرَةِ

2.  “Diriwayatkan daripada Ibnu Umar r.a katanya: Rasulullah s.a.w bersabda: Setiap minuman yang memabukkan adalah arak dan setiap yang memabukkan adalah haram. Barangsiapa yang meminum arak di dunia lalu meninggal dunia dalam keadaan dia masih tetap meminumnya dan tidak bertaubat, maka dia tidak akan dapat meminumnya di Akhirat kelak (di Syurga)”.

 

حَدِيثُ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ : أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أُتِيَ بِرَجُلٍ قَدْ شَرِبَ الْخَمْرَ فَجَلَدَهُ بِجَرِيدَتَيْنِ نَحْوَ أَرْبَعِينَ *

“Diriwayatkan daripada Anas bin Malik r.a katanya: Sesugguhnya seorang lelaki yang meminum arak telah dihadapkan kepada Nabi s.a.w kemudian baginda telah memukulnya dengan dua pelepah kurma sebanyak empat puluh kali”.

حديث ابي هريرة : الخمر من هاتين الشجرتين واشار الي الكرم والنخلة

“Diriwayatkan daripada Abi Hurairah, khomer adalah terbuat dari dua pohon ini, seraya Nabi SAW menunjuk pohon anggur dan kurma”.

 

 حديث انس : حرمت الخمر حين حرّمت وما يتخذ من خمر الاعناب الا قليل وعامة خمرنا البسر والتمر

Diriwayatkan daripada Anas, khomer itu haram ketika kuharamkan, dan apa saja yang diambil dari saripati anggur kecuali sedikit. Pada umumnya khomer kita adalah perasan kurma yang belum matang dan kurma yang sudah matang”.

حديث ابن عمر : نزل تحريم الخمر يوم نزل وهي من خمسة من العنب والتمر والحنطة والشعير والذرة والخمر ما خامر العقل

6. “Diriwayatkan daripada Ibn Umar : Diturunkan pengharaman khomer pada hari diturunkan yaitu dari anggur, kurma, gandum, gandum, biji sawi. Sedangkan ia disebut khomer karena menutupi/menghilangkan kesadaran akal”.  

Bertitik tolak dari pemaparan hadis di atas, jelaslah bahwa setiap minuman dan makanan yang memabukkan dan menghilangkan kesadaran akal fikiran dengan tujuan yang dilarang oleh Allah adalah haram hukumnya. Bagaimanapun bentuknya : padat, cair ataupun gas, dan bagaimanapun cara mengkonsumsinya : disuntikkan atau dengan cara lainnya. Sebab fungsi dari hadis-hadis Nabi itu adalah menjelaskan, menguat dan menetapkan hukum yang terkandung di dalam al-Qur’an. Dengan demikian “keharaman” khomer menjadi kuat, sebab didasarkan pada nash-nash al-Qur’an dan hadis-hadis Nabi SAW.

Analisis lafadz dan makna yang menunjuk pada keharaman khomer dalam hadis-hadis tersebut adalah lafadz kullu muskirin khomrun fa kullu khomrum  haramun dan atau  fa huwa haramun dalam hadis nomor satu, dengan jelas dan tegas memaparkan bahwa setiap minuman yang memabukkan adalah haram hukumnya. Dan lebih tegas lagi adalah  perbuatan Nabi sendiri yang melakukan had atau dera sebanyak 40 kali dengan pelepah kurma di depan masjid bagi orang yang meminum khomer sebagaimana termaktub dalam shahih Buchori dan Muslim[19]

Berangkat dari masalah pokok itu (al-Ashl dan al-Maqis ‘Alaih) yaitu al-Khomer yang keharamannya ditetapkan oleh al-Qur’an dan hadis Nabi SAW ( mempunyai :Hukm al-Ashl), persoalan berikutnya tinggal menetapkan apa yang menjadi cabang masalah dari yang pokok di atas (al-Far’ atau al-Maqis) dan causa effect (al-‘Ilat : sifat subtantif yang terdapat pada Hukm al-Ashl ; yaitu memabukkan dan menghilangkan kesadaran akal pikiran). Untuk persoalan hukum narkotika dan psikotropika menurut hukum Islam, dapat digunakan cara menetapkan hukumnya dengan metode Qiyas (analogi hukum antara masalah cabang/al-Far’u ke masalah pokok/al-Ashl dengan syarat ada kesamaan illatnya, sehingga antara hukum cabang/hukm al-Far’u sama dengan hukum pokok/hukm al-Ashl)[20]. Narkotika dan psikotropika sebagai masalah kontemporer yang tidak ada dalil nash dapat diqiyaskan dengan masalah khomer yang ada dalil nashnya.

Narkotika dan psikotropika menjadi masalah cabang/al-Far’u dari masalah pokok/al-Ashl/al-Maqis ‘Alaih : khomer yang  Hukm al-Ashl (hukum pokoknya) haram. Karena di dalam masalah cabang/al-Far’u/al-Maqis terdapat kesamaan illat dengan masalah yang pokok yaitu illat memabukkan dan menghilangkan kesadaran akal, maka hukum dari masalah cabang dapat dianalogikan dengan hukum masalah pokok yaitu haram. Dengan demikian hukum masalah narkotika dan psikotropika diqiyaskan ke hukum masalah khomer karena adanya persamaan illat. Hukum narkotika dan Psikotropika adalah haram seperti hukum khomer. Dari kesamaan hukum berakibat pula pada kesamaan hukuman (pidananya).

Di dalam hukum pidana Islam terdapat tiga bentuk hukuman yaitu ; qishas (hukuman yang setimpal dengan perbuatan seperti pembunuhan hukumannya dibunuh), hudud (hukuman yang ketentuannya terdapat dalam al-Qur’an dan hadis Nabi seperti orang berzina dihukum 80 dera/jild) dan  takzir (hukuman yang ketentuannya diserahkan pada pemerintah yang berwenang dengan tujuan mendidik dan membuat jera). Tujuan dari hukuman tersebut adalah demi keadilan, keselamatan eksistensi lahir-batin manusia, mendidik individu dan masyarakat supaya  jera dan tidak mengulang perbuatan haram serta agar menciptakan ketentraman dan keamanan masyarakat pada umumnya demi tegaknya agama Allah SWT[21].

Adapun bentuk hukuman bagi peminum khomer sebagaimana dijelaskan dalam hadist adalah dihad atau didera sebanyak 40 kali, namun sebagian para ulama menentukan had peminum khomer sebanyak 80 kali dera bagi orang yang merdeka dan 40 kali bagi hamba sahaya. Dasar argumentasi mereka adalah surat An-Nisa’: Fa’alaihinna nisfu ma ’ala al-mukhshonaati min al-adzaab[22] diqiyaskan dengan hukuman seorang hamba sahaya yang berzina.

Had dapat dilaksanakan sesuai dengan pengakuan peminum komer sendiri atau dengan 2 orang saksi adil. Terhukum adalah seorang muslim, baligh, berakal, mengerti tentang keharaman khomer, berbadan sehat dan cuaca dan waktu pelaksanaan hukuman memungkinkan (tidak terlalu panas atau dingin). Cara pelaksanan hukuman adalah pemabuk disuruh duduk di atas tanah tanpa baju, lalu dipukul dengan pecut yang tidak terlalu keras dan tidak terlalu lembek. Apabila si terhukum seorang perempuan harus menutup aurat dengan baju tipis[23].

Dengan demikian penerapan hukuman menurut hukum Islam bagi peminum khomer adalah had dan atau takzir (?). Sedangkan apabila kita cermati hukuman bagi penyalahgunaan narkotika dan psikotropika sebagaimana terdapat dalam KUHP dan pasal-pasal UU No. 22/1997 tentang narkotika dan UU No. 5/1997 tentang psikotropika dapat digolongkan pada bentuk hukuman takzir dalam hukum pidana Islam. Persoalan yang muncul berikutnya adalah ketidaksamaan bentuk hukuman antara khomer dan narkoba.

Hukuman khomer dengan had –sebagaimana dalam hadis-  sedangkan narkoba  -menurut penulis- takzir, karena ditentukan oleh pemerintah yang berwenang. Oleh karena itu dapatkah hukuman bagi penyalahgunaan narkoba  identitet dengan takzir atau bahkan mungkin dengan had/hudud ????. Menurut analisis penulis kedua bentuk hukuman ; had dan takzir dapat diterapkan bagi penyalahgunaan narkoba dan pemabuk. Mereka dapat dihukum had sebagaimana dalam hadis dan serentak juga diterapkan hukuman takzirnya.

IV. Kesimpulan

Berdasarkan analisis di atas, UU No. 22/1197 tentang narkotika dan UU No. 5/1997 tentang psikotropika beserta penerapan pasal-pasalnya merupakan upaya represif atau penegakan hukum terhadap penyalahgunaan kedua barang haram tersebut. Penerapan UU itu tidak bertentangan dengan hukum Islam karena kedua masalah masalah kontemporer : narkotika dan psikotropika dapat dikiaskan hukumnya dengan hukum khomer karena persamaan illat diantara keduanya.

Adapun penerapan hukuman terhadap para produsen, pengedar, dan konsumen narkotika dan psikotropika sebagaimana telah ditetapkan oleh UU dapat digolongkan sebagai hukuman takzir atau mungkin hudud ?.  Hal itu dapatkah diberlakukan bagi peminum khomer (minuman keras) ?. Sementara peminum khomer menurut hukum Islam terkena had  40 dera kali –sebagaimana dalam hadis- dan dihad 80 kali bagi orang yang merdeka dan 40 kali bagi hamba sahaya, apabila diqiyaskan dengan hukuman zina. Tapi apakah qiyas  hukuman peminum khomer dengan pezina sah ?  padahal menurut kaidah ushul “al-Qiyas ma’a al-Fariq Batilun”. Di sinilah letak rekomendasi penulis semoga dapat didiskusi lebih detail dan komperehensif. Wallahu A’lam Bisshowab,.

 

DAFTAR KEPUSTAKAAN

Adz-Dzurul Manstsur li As-Suyuti

Al-Mufradad fi Gharib al-Qur’an li Raghib al-Asfihany

CD Al-Qur’an dan Tafsir

CD Hadist  al-Kutub al-Tis’ah dan Syarah

Kassat Bimmas Polda Jatim, Makalah.

Kitab UU RI No. 22/1997 Tentang Narkotika

Kitab UU RI No. 5/1997 Tentang Psikotropika

Lisan Al-Arab li Ibn Mandzur

Majma’ al-Bayan li Thibrisy

Minhajul Muslim li Abu Jabir al-Jaziry

Rowai’ul Bayan fi Tafsir Ayat al-Ahkam li As Shobuni

Tafsir al-Kabir li Fakhurrozi

Tafsir al-Kasyaf li Az-Zamakhsari

Tafsir al-Manar

Tafsir al-Qurtubi

Tafsir at-Thobari

Tafsir Fath al-Qadir li As-Asyaukani

Tafsir Ibnu Katsir

Ushul Fiqh li Wahbah Az-Zuhaly    


[1] Al-Qur’an, 95 : 4,  dan  2 : 30

[2] Al-Qur’an, 49 : 13

[3] Al-Qur’an : 3 : 3-4

[4] Al-Qur’an, 96 : 1-5

[5] Kitab UU RI No 22/1997 tentang  narkotika, h. 83-84

[6] Kitab UU RI No 5/1997 tentang psikotropika, h. 100

[7] Kasat Bimmas Polda Jatim, Makalah, h.5

[8]  Op. Cit., h. 115-119 (UU RI Psikotropika).

[9] Op.Cit., h. 108-119 (UU RI Narkotika).

[10] Al-Qur’an, 5:90

[11] Minhaj al-Muslim, h. 449, Dar el-Fikr, tt, ttp, Bandingkan Sahih Muslim, Bab Khomer, tt, ttp.

[12] Al-Qur’an, 2 : 195 dan 219, ke 4 :43, ke 5: 90-91, ke 10 :99-100

[13] Al-Qur’an, 16 :67

[14] Al-Qur’an, 2 :219

[15] Al-Qur’an, ke 4 :43,

[16] Al-Qur’an, ke 5: 90-91

[17] Al-Qur’an, , ke 5: 90-91,  ke 10 :99-100

[18] Hadis-hadis ini penulis peroleh dari cd hadis kutub tis’ah, lihat juga tafsir ruh al-Ma’any,  juz 2, h. 112, tafsir al-Fakhr al-Razy,  juz 6, h. 43, tafsir  Ayat al-Ahkam li al-Jassos, I juz I, h. 382.

[19] Lihat Minhaj Al-Muslim hal. 449.

[20] Wahbah az-Zuhaily, Ushul al-Fiqh al-Islamy, juz I, h. 600-660, lihat juga kitab al-Ihkam li al-Amidy, juz II, h.2, Irsyadul Fuhul li Syaukany, h. 172.

[21] Mahmoud Syaltout, al-Fatawa, dimuqaddimahnya

[22] Op.Cit., Minhaj Muslim, h. 449

[23]  Ibid.,  h. 450

Leave a Reply

Allowed tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>