A. PENDAHULUAN

Perguruan Tinggi Agama Islam (PTAI) adalah perguruan tinggi umum yang berciri khas Islam di bawah binaan Kementerian Agama RI. Perguruan tinggi tersebut terdiri dari perguruan tinggi negeri dan perguruan tinggi swasta. Menurut statistik pendidikan Kementerian Agama RI tahun 2010/2011 jumlah lembaga Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri (PTAIN) sebanyak 52 dan Perguruan Tinggi Agama Islam Swasta (PTAIS) berjumlah 557 lembaga. Lembaga perguruan tinggi yang dibina oleh Kementerian Agama tersebut dapat berbentuk universitas (UIN/UIS), institut (IAIN/IAIS) dan sekolah tinggi (STAIN/STAIS). Dalam bentuk universitas terdiri dari 6 perguruan tinggi negeri dan 90 universitas perguruan tinggi swasta.Sedangkan yang berbentuk institut ada 14 perguruan tinggi negeri dan 27 perguruan tinggi swasta.Bentuk yang lain adalah sekolah tinggi yang berjumlah 32 sekolah tinggi negeri dan 440 sekolah tinggi swasta. Untuk jumlah mahasiswa total keseluruhan 576,516 dan jumlah dosen sebanyak 31,130 dengan rincian 2888 strata tiga (S3), 19,652 strata dua (S2) dan 8,590 strata satu (S1). Terlepas dari data-data statistikal di atas penulis akan memaparkan beberapa hal yang dapat menginspirasi kemajuan Indonesia masa depan yang berkait-berkelindan dengan atmosfir akademik Perguruan Tinggi Agama Islam (PTAI) sebagai bagian integral dari misi mencerdaskan kehidupan bangsa dan membangun jiwa kebangsaan dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

B. KEUNGGULAN PTAI YANG INSPIRATIF

Perguruan tinggi agama Islam yang ada di Indonesia mempunyai keunggulan yang sangat distingtif jika dibandingkan dengan perguruan tinggi lainnya baik di dalam maupun di luar negeri. Ada dua keunggulan yang tak tertandingi yaitu kajian studi Islam yang rahmatal lil alamin dan kajian seni budaya Islam nusantara yang sudah terinternalisasi ke dalam budaya dan peradaban Islam Indonesia.

Keunggulan yang pertama, dapat dijadikan acuan kajian Islam dunia pendidikan tinggi international.Kajian studi Islam di PTAI pada semua rumpun ilmu keislaman selalu menitik-beratkan pada nilai-nilai rahmatal lil alamin yang tercermin pada sikap-sikap tasamuh (toleran), tawassuth (moderat), tawazun (seimbang) dan i’tidal (selalu berpihak pada kebenaran universal).Semua mata kuliah baik itu fiqih, teologi, hukum Islam, ekonomi Islam dan lain sebagainya diwajibkan menginsersi nilai-nilai dan prinsip-prinsip di atas pada setiap syllabus, pembahasan dan implementasinya dalam hidup keseharian. Karena, pada dasarnya nilai dan prinsip tersebut yang akan menjadi elan vital pembentukan jati diri muslim dan karakter kebangsaan Indonesia yang dapat dihormati dan berdaya saing pada dunia global. Hal itu tentu sangat berbeda dengan perguruan-perguruan tinggi lain -di dalam atau di luar negeri- pada saat menyampaikan kajian studi Islam yang cenderung formalistis, tekstual dan doktrinal. PTAI dalam melakukan kajian studi Islam tidak pernah ada yang bersifat formalistis, tekstual dan doktrinal sehingga pada akhirnya terlalu gampang meng-kafir kafirkan orang, menuduh teroris, liberal atau bahkan bersikap radikal dan merasa paling benar sendiri. Inilah inspirasi PTAI untuk kejayaan masa depan Indonesia pada dunia global.

Keunggulan yang kedua, terletak pada kajian seni budaya Islam nusantara. Di PTAI kajian keilmuan atau keagamaan tidak boleh terfokus pada ranah kognitif belaka. Tapi harus bersinergi dengan ranah afektif dan psikomotorik. Karena keilmuan apa lagi ilmu agama harus termanifestasi pada integritas akademik, otonomi keilmuan dan juga pada penghayatannya terhadap nilai-nilai keislaman yang terkomunikasikan dan tersimbolkan pada seni dan budaya terutama dalam konteks seni dan budaya Islam Nusantara.Kajian studi Islam tidak boleh meninggalkan ekspresi-ekspresi budaya yang sudah terinternalisasi ke dalam hidup dan kehidupan Muslimin Indonesia dari Sabang sampai Merauke. Setiap kajian Islam di Indonesia harus memunculkan nilai, prinsip dan  sikap-sikap tasamuh (toleran), tawassuth (moderat), tawazun (seimbang) dan i’tidal (selalu berpihak pada kebenaran universal). Bertitik tolak dari nilai dan prinsip itu lalu terkomunikasikan dan tersimbolkan pada ranah seni dan budaya seperti mauludan (peringatan maulid Nabi SAW) yang disertai dengan bacaan-bacaan merdu shalawat, nasyid, barzanji, hadroh dan lain sebagainya. Bahkan dari Sabang sampai Merauke tradisi ARUMANIZ MARHABAN (baca aurat/dzikir, ratib, manaqib, maulid, istighosah, ziarah ulama, marawis, hadroh, barjanji dan nasyid) telah membudaya dan mentradisi dalam hidup dan kehidupan umat Islam Indonesia. Selain itu seni tari seperti tari saman, atau budaya sekaten dan gerebek kesemuanya menjadi keunggulan kajian seni dan budaya Islam nusantara pada Perguruan Tinggi Agama Islam (PTAI). Inilah keunggulan kedua yang menginspirasi Indonesia dalam mempublikasikan Islam Indonesia yang damai, toleran dan selalu menghargai tradisi, seni dan budaya umat manusia.

C. VISI DAN MISI PTAI YANG BERDAYA SAING GLOBAL

Visi PTAI tentu tidak sekedar menuju universitas transnasional yang berdaya saing global atau melaju menjadi world class universities (WCU) dengan beragam kriteria dan parameter yang cenderung kapitalistik-materialistik. Tapi visi PTAI harus menjadi pioner kompetitif dalam mewujudkan dunia yang damai, toleran, saling menghargai dan menghadirkan bayang-bayang surgawi di dunia yang fana ini. Oleh karena itu PTAI harus segera merancang-bangun langkah langkah strategis dalam misi misinya yang futuristik dan berdaya saing global. Ada 5 (lima) hal misi yang harus diwujudkan yaitu :

1. PTAI harus memposisikan dirinya menjadi pusat kajian Islam dunia yang menawarkan nilai ketauhidan, kemanusiaan yang adil dan beradab, persatuan, toleransi sejati dan keadilan sosial bagi seluruh umat manusia di muka bumi.

2. PTAI harus mempublikasikan eksistensinya sebagai agen integrasi keilmuan, islamisasi dan spiritualisasi ilmu serta menciptakan counter discourse terhadap sekularisasi dan westernisasi ilmu. Di mana ilmu harus dibangun atas dasar kebenaran hakiki/universal dan penghargaan pada nilai-nilai kemanusiaan.

3. PTAI harus menjadikan dirinya sebagai perisai nilai-nilai dan prinsip-prinsip Islam yang kaffah (artinya Islam yang rahmatal lil alamin, Islam yang tasamuh (toleran), tawassuth (moderat), tawazun (seimbang) dan i’tidal (selalu berpihak pada kebenaran universal) dari serangan nilai dan prinsip sekularisme, liberalisme, materialisme, kapitalisme, skeptisisme, pornografi/pornoaksi, korupsi, nepotisme, terorisme dan kejahatan-kejahatan kemanusian lainnya.

4. PTAI harus berperan di garda terdepan untuk mewujudkan dunia yang harmoni, komunitas akademik yang integratif, dedikatif dan loyalis pada kebenaran dan kejujuran universal serta keadilan sejati bagi umat manusia. PTAI harus mempelopori gerakan-gerakan anti terorisme, anti korupsi, anti perdagangan manusia, anti kekerasan dan lain sebagainya.

5. PTAI harus memanifestasikan diri sebagai pusat pengembangan dan konservasi seni budaya dan peradaban islami. PTAI harus berkompetisi dengan universitas al-Azhar Mesir, universitas Zaitunah Tunisia, universitas Qarawiyin Maroko atau universitas dunia lainya dalam misi menjadikan lembaganya sebagai pusat pengembangan dan konservasi seni budaya dan peradaban islami.

Maka, untuk menjadikan PTAI dalam visi dan misinya yang dapat menginspirasi kejayaan masa depan Indoensia pada tingkat global, seyogyanya PTAI melakukan beberapa transformasi radikal dan revolusioner dalam beberapa bidang sebagaimana di bawah ini :

1. PTAI harus melakukan transformasi akademik atau adopsi total secara kurikuler dan sistem pembelajaran dari berbagai perguruan tinggi dunia yang berkelas dan ber-rangking pertama. Bisa saja melakukan sedikit adaptasi dan modifikasi kurikuler tapi seharusnya segera mengejar segala ketertinggalan dengan beberapa perguruan tinggi kelas dunia.

2. PTAI harus mentransformasi SDM atau pendidik dan tenaga kependidikan dengan standar kompetensi dan kualifikasi akademik yang sama dengan perguruan tinggi kelas dunia. Apa pun upayanya harus mensejajarkan semua pendidik dan tenaga kependidikan PTAI dengan standar kompetensi dan kualifikasi akademik perguruan tinggi maju di dunia. Sejumlah program yang mendukung pada hal tersebut wajib segera direalisasikan.

3. PTAI harus melaksanakan transformasi informasi, teknologi dan infrastruktur yang ideal pada perguruan tinggi tingkat dunia ke dalam jantung PTAI sendiri. Semua sistem ICT (infomation communication technology) dan insfrastruktur yang mendukung tercapainya daya saing global harus difasilitasi tanpa adanya penundaan.

4. PTAI harus menciptakan transformasi terhadap segala kreatifitas, inovasi dan improvisasi dalam bidang teknologi dan budaya yang telah ada pada perguruan tinggi maju untuk dibawa dan diboyong menjadi atmosfir akademik dan tradisi intelektual PTAI di Indonesia.

5. PTAI harus berani melakukan transformasi nilai-nilai dan prinsip keislaman universal agar menjadi prinsip dan nilai-nilai universal dunia yang harmoni dan abadi. Sehingga nilai dan prinsip islamy mengatasi dan melampaui segala perbedaan suku, ras, kebangsaan, kepercayaan dan agama. Dengan demikian Islam akan menjadi ya’luu wala yu’la alaihi (Islam yang luhur dan tiada keluhuran lainnya yang mengatasinya).

D. PENUTUP

Inspirasi harus terwujud dari sejumlah imajinasi. Dan imajinasi bukanlah mimpi kosong di siang hari. Sebuah inspirasi pasti mengerakkan emosi dan terus memotivasi diri untuk terus maju dan berkembang. Dari inspirasi akan tercipta kreatifitas, inovasi, improvisasi bahkan sederet eksperimen dan penjelajahan akademik yang bermanfaat bagi keabadian akan kemaslahatan umat manusia. wallahu a’lam bisshowab……


PERCEPATAN SERTIFIKASI DOSEN PTAI TAHUN 2012


.

Pada tanggal 25-27 April 2012 diadakan rapat koordinasi nasional sertitifikasi dosen PTAi tahun 2012. Rekomendasi dari rapat tersebut diantaranya, pertama; sertifikasi dosen tahun 2012 akan dilaksanakan dengan sistem online. Kedua, para peserta rapat sepakat bahwa batas akhir pengusulan peserta serdos 2012 adalah tanggal 5 Mei 2012. Ketiga, implementasi Beban Kerja Dosen (BKD) harus tetap dilaksanakan sejak ditetapkannya SK Dirjen Pendis pada tahun akademik 2011-2012. Keempat, senyampang dengan implementasi BKD maka rekuitmen assesor internal BKD masih tetap dilakukan pada masing masing PTAI. Kelima, pelaporan BKD akan dilaksanakan juga dengan melalui sisten BKD online yang bisa diakses untuk seluruh perguruan tinggi. Keenam, terkait dengan pembinaan, pengendalian dan pengawasan serdos, tunjangan profesi, tunjangan kehormatan dan laporan BKD akan dimulai sejak para dosen menerima tunjangan profesi dan atau kehormatan bagi para guru besar. Pencairan tunjangan tunjangan tersebut harus mengacu pada keterpenuhannya BKD dari masing masing dosen. Jika BKDnya tidak terpenuhi otomatis segala tunjangan yang ada harus di-offkan dan tidak dicairkan.



Sejumlah forum Guru Besar UI mendatangi Kementerian Agama RI menanyakan beberapa hal terkait dengan RUU PT yang sejatinya akan bersentuhan juga dengan perguruan-perguruan tinggi di bawah binaan Kementerian Agama RI.

Para Guru Besar mengajukan beberapa pertanyaan substansial di antaranya ;

  1. Bagaimana sikap Kementerian Agama terkait dengan substansi RUU PT ?
  2. Mengapa Kementerian Agama masih setengah hati mendukung RUU PT segera disahkan ?
  3. Bagaimana kebijakan Kementerian Agama terhadap otonomi akademik dan otonomi non-akademik pada perguruan-perguruan tinggi di bawah binaannya ?
  4. Mengapa Kementerian Agama mengambil langkah BLU bagi perguruan-perguruan tingginya ? Bukan BHMN seperti 7 eks BHMN yang kemudian dibatalkan oleh MK?
  5. Sejauh mana intervensi Kementerian Agama terhadap beberapa perguruan –perguruan tinggi di bawah binaannya ? seperti masalah pemilihan rektor, prosentase penerimaan mahasiswa baru, anggaran perguruan tinggi dan lain sebagainya ?

 

Jawaban Sekjen Kemenag RI

  1. Kementerian Agama memandang bahwa RUU PT merupakan inisiatif murni dari DPR RI yang bersamaan dengan RUU Pendidikan Kedokteran. Sejatinya RUU tersebut menyisahkan beberapa persoalan. Mengapa tidak cukup saja mengunakan UU Nomor 20 tahun 2003 tentang Sisdiknas sebagai induk ? Persoalan perguruan tinggi dan pendidikan kedokteran hanya merupakan turunan dari UU yang bisa berupa PP atau ketentuan per-undang-undangan lain yang berapa pada level bawahnya. Kalau pun kemudian ada RUU di atas tentunya akan menimbulkan pertanyaan lanjutan kenapa tidak ada RUU Pendidikan Dasar Menengah, RUU Pendidikan Pertanian, RUU Pendidikan Keguruan dan lain sebagainya. Sebenarnya RUU PT itu posisinya belum duduk, baik dengan kementerian/lembaga terkait yang menyelenggarakan atau membina perguruan tinggi, stakeholders maupun para akademisi dan praktisi perguruan tinggi negeri dan swasta. Selain itu ada persoalan berikutnya terkait masalah siapa penyelenggara dan siapa pembinanya seperti Pendidikan Kedokteraan dalam RUU Pendidikan Kedokteraan sebagai penyelenggara adalah Kemendikbud sedangkan sebagai pembina adalah Kemenkes. Begitu juga dengan Pendidikan Keagamaan Tinggi di Kementerian Agama sebagai penyelenggara dan pembina adalah Kemenag dan jika perguruan tinggi tersebut membuka prodi non-keagamaan maka penyelenggaranya tetap Kemenag dan pembinanya adalah Kemendikbud. Persoalan-persoalan di atas semuanya belum duduk (jelas dan final). Hal itu belum lagi masalah-masalah substansi pasal demi pasal. Sebagai contoh pasal tentang perumpunan bidang ilmu yang terdiri dari bidang ilmu Humaniora, Sosial, Sains, Formal dan Terapan tanpa memasuk bidang ilmu Agama. Kenapa bidang ilmu Agama tidak dimasukkan dan dikategorikan dengan ilmu Humaniora ? Kenapa mesti ada bidang ilmu Formal seperti Komputer ? Sejatinya perumpunan bidang ilmu harus benar-benar duduk agar dampak pada pembentukan fakultas, jurusan atau program studi bisa menjadi jelas. Begitu juga hal tersebut harus jelas body of knowledge dari sebuah ilmu. Landasan epistemologis, ontologis dan axiologisnya harus jelas jika mengarah pada kajian-kajian akademik. Perumpunan bidang ilmu jika tidak jelas akan berakibat juga pada ketidakjelasan kerangka dasar dan struktur kurikulum serta gelar akademik yang akan disandangkannya. Kemudian, masalah penjenjangan strata I, strata II dan strata III bagi yang akademik dengan gelar Magister untuk S2 dan Doktor untuk S3 yang kemudian bisa guru besar, dan spesialis I, spesialis II dan spesialis III untuk yang profesi dan vakasi dengan gelar Magister untuk spesialis II dan Doktor untuk spesialis III serta bisa juga menjadi Professor. Ini pun tidak jelas, masak yang profesi dan vokasi gelar dan jenjangnya sama dengan yang akademik? Padahal pendidikan profesi dan vokasi sejatinya hanya untuk konsumsi dunia kerja dan usaha pada sektor formal maupun non formal bukan bergumul dan berkutat dibidang akademik yang lebih bersifat teoritik dan filosofis. Dengan demikian substansi pasal-pasal dalam RUU PT masih banyak yang debateble dan harus diluruskan. Karena alasan-alasan di atas Kementerian Agama masih enggan RUU PT untuk segera disahkan disamping ketidaksetujuan untuk diintegrasikan seluruh pendidikan tinggi di bahwa Kemendikbud seperti pernyataan Dirjen Dikti “Biarkan tubuh dan raganya berada di berbagai Kementerian dan Lembaga lain yang penting ruh atau otaknya di Kemendikbud” saat rapat bersama antara Kemenag, Kemendikbud dan DPR RI Komisi X.
  2. Otonomi akademik mutlak harus menjadi kewenangan utama perguruan tinggi, kapan dan di mana pun perguruan tinggi berada. Tanpa adanya otonomi akademik “ruh” suatu perguruan tinggi akan hilang. Tidak akan berarti lagi segala sarana dan prasarana yang ada kendatipun mewah dan megah. Karena di dalam otonomi akademik terkandung di dalamnya kebebasan mimbar akademik, kebebasan akademik dan otonomi keilmuan. Kebebasan akademik adalah upaya mendalami, menerapkan, dan mengembangkan ilmu pengetahuan, teknologi, seni, dan/atau olahraga melalui kegiatan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat secara berkualitas dan bertanggung jawab. Sedangkan kebebasan mimbar akademik merupakan kebebasan setiap anggota sivitas akademika dalam menyebarluaskan hasil penelitian dan menyampaikan pandangan akademik melalui kegiatan perkuliahan, ujian sidang, seminar, diskusi, simposium, ceramah, publikasi ilmiah, dan pertemuan ilmiah lain yang sesuai dengan kaidah keilmuan. Tujuan dari kebebasan akademik dan kebebasan mimbar akademik di perguruan tinggi di atas bertujuan untuk melindungi hak kekayaan intelektual (HAKI), peningkatan mutu akademik, pemberian manfaat yang sebesar-besarnya bagi masyarakat, bangsa, negara dan kemanusiaan serta dilaksanakan dengan bertanggung jawab, tidak bertentangan dengan etika, hukum, kaidah akademik dan kepentingan umum. Selain asas Kebebasan akademik dan kebebasan mimbar akademik, secara mutlak perguruan tinggi wajib mengupayakan dan menjamin agar setiap anggota sivitas akademika melaksanakan otonomi keilmuan secara bertanggung jawab. Otonomi keilmuan merupakan kemandirian dan kebebasan sivitas akademika suatu cabang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, dan/atau olahraga yang melekat pada kekhasan/keunikan cabang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, dan/atau olahraga yang bersangkutan, dalam menemukan, mengembangkan, mengungkapkan, dan/ atau mempertahankan kebenaran menurut kaidah keilmuannya untuk menjamin keberlanjutan perkembangan cabang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, dan/atau olahraga. Kebebasan akademik, kebebasan mimbar akademik dan otonomi keilmuan tersebut tentunya dalam kerangka pencarian kebenaran ilmiah yang menjunjung nilai-nilai kejujuran, amanah ilmiah, keadilan dan pertanggung jawaban kepada Allah SWT dan umat manusia secara menyeluruh. Dengan demikian Kemenag memberikan otonomi akademik yang seluas-luasnya kepada perguruan tinggi dan tidak mengintervensi terlalu jauh pada hal-hal teknis-akademik seperti masalah jurnal karya ilmiah, proses penilaian karya ilmiah para dosen dan lain sebagainya yang hal itu sebenarnya merupakan otoritas kaum akademisi di kampus dan bukan kewenangan para birokrat di kementerian. Terkait dengan masalah otonomi non-akademik artinya otonomi di bidang tata kelola, administrasi dan keuangan pada perguruan tinggi. Pada posisi ini Kemenag hanya memberikan beberapa standar, baik itu SOP (standar operating procedure), SP (standar pelayanan), SPM (standar pelayanan minimal), SBK (standar biaya keluaran), SBU (standar biaya umum) yang harus menjadi acuan bagi perguruan tinggi. Hal itu semua tentunya harus sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku.
  3. Kementerian agama mengambil langkah BLU bagi pengelolaan sebagian pergururan tinggi di bawah binaannya adlah merupakan jalan tengah untuk mengatasi otonomi pengelolaan keuangan perguruan tinggi agar tidak bertentang secara diametral dengan ketentuan per-undang-undangan dan peraturan yang secara organik merupakan tanggung jawab kementerian keuangan. Kemenag memang tidak mengambil langkah BHMN yang memperoleh pengelolaan yang penuh di bidang keuangan tetapi akhir dibatalkan oleh MK karena bertentang dengan undang-undang dan peraturan di atasnya serta menciptakan kastanisasi perguruan tinggi. Akhirnya perguruan tinggi hanya mampu diraih oleh kalangan berduit dan susah digapai oleh orang-orang miskin kendatipun mereka berprestasi dan berotak cemerlang. Argumentasi memilih BLU adalah karena………………..

JANGAN SIA-SIAKAN UMUR


.

Manusia hidup harus mengerahkan segala potensi yang dianugerahkan Allah SWT kepadanya. Hidup harus bikin sejarah yang abadi bagi kehidupan umat manusia. Tanpa adanya karya nyata, sejarah hidup manusia tidak akan abadi hingga seribu atau sepuluh ribu tahun ke depan. Bisa saja sejarah hidup manusia hanya ditelan oleh seberapa lama dia hidup menghirup udara di dunia. Kalau usia manusia hanya 65 tahun maka selama itu pula sejarahnya ada. Tapi jika dia berkarya untuk keabadian semisal menulis buku, mempunyai karya paten atau apapun yang buah karya pemikirannya bisa bermanfaat bagi umat manusia dan melampaui ke masa depan yang lebih lama dan menyejarah dalam hidup dan kehidupan, maka dia dapat dikategorikan hidup dalam 1000 atau 10.000 tahun dan bahkan berabad-abad lamanya. Kendatipun jasad dan tulang-tulang sudah menjadi tanah dan tertelan bumi.

Potensi manusia yang terbesar dianugerahkan Alloh SWT adalah otak. Pada otak manusia terdapat 100.000.000 juta sel yang apabila dimaksimalkan tentu akan memunculkan beberapa karya monumental dan menyejarah dalam kehidupan. Konon jika manusia hanya memaksimalkan 1.000.000,- saja maka dia akan sama dengan memperoleh 7 gelar akademik, pandai berbahasa asing sebanyak 7 bahasa, menguasai semua ensiklopedi Americana dan mempunyai ribuan karya paten di bidang teknologi. Subhanalloh…..bahkan kemampuan teknologi yang mampu mengirim manusia ke bulan itu hanya sebanding dengan 4.000 sel yang ada pada otak manusia. Betapa hebatnya makhluk Alloh SWT yang bernama manusia ini jika benar-nenar memaksimalkan sel-sel otaknya.

Namun sayang sekali pada kenyataannya manusia lalai dan menyia-siakan umurnya hanya untuk senang-senang dan kelalaian belaka.Coba bayangkan jika dalam sehari-semalam manusia tidur 8 jam berarti 8 X 30 hari dalam satu bulan dia sudah tidur sebanyak 240 jam. Bagaimana jika 240 jam perbulan X 12 bulan sama dengan 2880 jam dalam setahun yang setara dengan120 hari atau 4 bulan. Jadi jika usia manusia itu 40 tahun berarti dia pakai tidur waktunya setara dengan 4 bulan X 40 = 160 bulan/13,3 tahun hanya dipergunakan untuk tidur. Lalu, apakah tahun yang menjadi sisanya kurang 37 tahun benar-benar digunakan secara maksimal untuk berkarya ??? Jawabannya terpulang kepada masing-masing individu manusia itu sendiri. Maka rugilah manusia jika hidupnya tidak benar-benar diisi dengan keimanan dan amal sholeh yang sebanyak-banyaknya.

Dengan demikian, kata kuncinya manusia harus berkarya (dalam bahasa agamanya ber-amal sholeh) demi hidup seratus, seribu atau berpuluh-puluh ribu tahun kemudian. Manusia pasti akan dikenal dan dikenang selamanya manakala mampu melahirkan warisan-warisan pemikiran dan karya-karya monumental. Untuk menggapai hal di atas, manusia mampu berbagai kemampuan bahasa asing dan mengekspresikan semua potensinya ke dalam simbol-simbol informatif, komunikatif dan afektif umat manusia. Tanpa itu semua manusia hidup tanpa dalam keabadian. Tanpa buah karya yang dapat diwariskan manusia hidup dalam kesia-siaanya belaka, wallohu a’lam bisshowab…..


PENGARUH AL-QUR’AN PADA BAHASA ARAB


.

أثر القران فى العربية

 

اعداد :

محمد عصــام يسقى *[1]

 

كان لنزول القرآن باللغة العربية أثر كبير في رقى هذه اللغة والنهوض بها. وذلك من عدة جوانب :

أولا : فى المفردات

فقد جاء القرآن بألفاظ جديدة لم تكن مستعملة من قبل ومن ذلك كلمات : النفاق والمنافق وما اشتق منها، وكلمة : الزقوم وضريع وغسلين وهي أسماء لطعام أهل النار، وكلمة : جهنم اسم للنار التي يعذب بها، وكلمة التسنيم اسم لشراب أهل الجنة، وكلمة الكوثر اسم لنهر بالجنة وغير ذلك من الكلمات التي جاء بها القرآن ولم تكن مستعملة في العربية من قبل.

كما جاء القرآن بمعان جديدة لكلمات قديمة نقلها من معناها اللغوي القديم الى معان اسلامية جديدة لم تكن مستعملة فيها من قبل مثل كلمات : الصلاة، الزكاة، الصوم، السجود، الركوع، الوضوء، التيمم، الجنة، النار، الصراط، الحساب، الإسلام، الإيمان، الكفر، وغير ذلك كثير من الكلمات التي استخدمها القرآن في معان اسلامية جديدة لم تكن معروفة عند العرب من قبل.

ثانيا : في الأغراض

لقد كانت العربية قاصرة على بعض أغراض القول المحدودة التي كانت تستخدم فيها في بيئة العربية البدوية. فلما نزل القرآن فتح أمام العربية ألوانا جديدة من العلوم والفنون التي لم تكن معروفة عند العرب من قبل مثل : مسائل التشريع وعلوم اللغة والتاريخ والبحث في العلوم السياسية والادارية ونظم الحرب والاقتصاد وعلوم الفلسفة والجدل وعلوم الطب والفلك وغيرها من مختلف المعارف والفنون التي اتسعت بها العربية ونهضت نهضة واسعة.

ثالثا : تنقيتها من معالم الجاهلية

فبعد نزول القرآن ودخول العرب الإسلام تخلوا عن كثير من الألفاظ التي كانت تعبر عن معان وعادات جاهلية قضى عليها الإسلام ومنع من التعامل بها لأنها تنافي تعاليم الإسلام وشريعته من ذلك : كلمة ’’ عم صباحا وعم مساء ‘‘ وهي تحية كان يستخدمها الجاهليون فجعل الإسلام مكانها تحية ’’ السلام عليكم ‘‘. وكلمة : المرباع، والصفايا، والنشيطة، والفضول. كلمات الاتاوة، والمكس، والحلوان، والضرورة، والنوافع. وهي كلها كلمات جاهلية كانت تمثل ألوانا من التعامل والعادات التي فيها ظلم وضلال.

رابعا: اتساع رقعتها

فقد كانت اللغة العربية محصورة فقط في القبائل العربية التي تنتشر متفرقة في شبه الجزيرة العربية فلما نزل القرآن وانتشر الإسلام انتقلت العربية الى بلاد جديدة واسعة فانتشرت في بلاد العراق والشام وشمال افريقيا وفي مصر وليبيا وتونس والجزائر والمغرب ثم في السودان وموريتانيا. ثم عبرت البحر الأبيض المتوسط وانتشرت في جنوب أوربا في بلاد الأندلس ’’ اسبانيا حاليا ‘‘ وبقيت هناك عدة قرون ثم انتشرت بعد ذلك في كثير من البلاد الاسلامية في إيران وتركيا وباكستان واندونيسيا وغيرها من البلاد التي دخلها الإسلام. ولو لا نزول القرآن باللغة العربية لظلت لغة محلية محدودة بحدود بلادها الضيقة.

خامسا: الحضارة

كانت العربية قبل نزول القرآن لغة شعب يعيش على حياة الرعى والصيد والتجارة. وكانت لغة فقيرة في المعاني الحضارية والفكرية فلما جاء القرآن جعلها لغة دين تتناول معاني الروح والاخلاق والبعث والحساب كما جعلها لغة دنيا تتناول شئون الحضارة والتمدن ومسائل الفكر والنظر تتسع لشتى العلوم والفنون فأصبحت لغة عالمية متحضرة تتسع لكل المعاني الإنسانية الراقية ومسائل الفكر والعلم. وقد كتب بها كل أنواع العلوم والمعارف والفنون على مختلف ألوانها. وهذا كله بفضل القرآن الذي فتح أمامها أبواب العلم ونهض بها وجعلها لغة الحضارة والرقى.

سادسا: حفظها من الضياع

وكان للقرآن الفضل في المحافظة على اللغة العربية حية متحدة الى يومنا هذا بعد أربعة عشر قرنا. وستبقى حية الى ما شاء الله بفضل بقاء القرآن. ولولا نزول القرآن فيها لتفككت الى لهجات متعددة. وفقدت الكثير من أصولها وقواعدها وأساليبها وأصواتها وبفضل المحافظة على القرآن وضعت علوم اللغة من نحو وصرف وبلاغة وتاريخ وأدب ومعاجم وتجويد مما كان سببا قويا في بقاء اللغة حية قوية الى الآن لم تفقد شيئا من أصواتها وقواعدها وأصول مفرداتها التي لا زالت تقرأ في القرآن وأحاديث الرسول صلى الله عليه وسلم.

المراجــع والمصــادر

أبو قاسم محمد جار الله محمود بن عمر الزمخشري، الكشاف عن حقائق التنزيل وعيوب الأقاويل في وجوه التأويل (القاهرة، مطبعة الباب الحلبى 1966 م)

ابراهيم بن عمر البقائي، نظم الدرر، (دار السلفية – بومبي هند 1976 م)

ابن قتيبة، تأويل مشكل القرآن، تحقيق أحمد صقر، (المكتبة العلمية المدينة المنورة 1981 م)

الراغب الاصفهاني، معجم ألفاظ القرآن، تحقيق نديم مرعشي، (بيروت – دار الفكر tt)

الراغب الاصفهاني، مفردات ألفاظ القرآن، (مصر الباب الحلبى 1961 م)

السيوطي، الاتقان في علوم القرآن، (القاهرة مطبعة مصطفي الباب الحلبى 1370 هـ)

القاضي أبو الحسن الأسدي الأبدي عبد الجبار، اعجاز القرآن، تحقيق أمين الخولي، (مصر، وزارة الثفاقية والارشاد القومي، 1960 – 1965 م)

القاضي أبو الحسن الأسدي الأبدي عبد الجبار، التنبوءات والمعجزات، تحقيق محمود الخضري ومحمود قاسم، (مصر وزارة الثقافة والارشاد القومي، 1385 هـ/ 1965 م)

القاضي أبو بكرالبقلاني، اعجاز القرآن على هامش الاتقان في علوم القرآن للسيوطي، (القاهرة مطبعة مصطفى الباب الحلبى 1370 هـ)

بدر الدين محمد بن عبد الله الزركشي، البرهان في علوم القرآن، (دار المعرفة للطباعة والنشر، 1972 م)

حنفى احمد ، التفسير العلمي للإرشاد الكونية في القرآن، (ط 11/tt القاهرة، دار المعارف)

عبد الحي الفرماوي، البداية في التفسير الموضوعي، (القاهرة الحضارة العبية، 1977 م)

عبد القاهر الجرجاني، دلائل الاعجاز، (القاهرة المكتبة التجارية)

عبد الله ابن عباس، اللغات في القرآن، راية ابن حسنون، تحقيق الدكتور صلاح الين المنجد، (دار الكتاب الجديد بيروت 1978 م)

عبد الله ابن يحيى بن المبارك اليزيدي، غريب القرآن وتفسيره ، (بيروت – عالم الكتب 1405 هـ/1985 م)

علي اليمني دردير، أسرار الترادف في القرآن الكريم، (مصر دار ابن حنصال 1985 م)

لبيب السعيد، الجمع الصوتي الأول للقرآن، (دار المعارف بمصر)

محمد باقر الصدر، التفسير الموضوعي والتفسير التجزئي في القرآن (بيروت، دار التعارف للمطبوعة 1980 م)

محمد بن جرير الطبري، جامع البيان عن تأويل أيات القرآن، تحقيق محمود محمد شاكر، (القاهرة دار المعارف 1975 م)

محمد حسين الذهبي، التفسير والمفسرون، (مصر دار الكتب الحديث 1961 م)

محمد راشد رضا، المنار، (القاهرة 1367 هـ)

محمد، عبد العظيم الزرقاني، مناهل العرفان في علوم القرآن (مصر الباب الحلبى 1980 م)

مناع القطان، مباحث في علوم القرآن، (مؤسسة الرسالة، بيروت ط 8/1981م)

نصر حامد أبو زيد، فلسفة التأويل، (بيروت، دار التنوير للطباعة والنشر 1983 م)


[1] – محــاضر بالجامعة الســـلامية الحكومية “ترناتى ملوكو الشمالبة اندونيسيا. هذه مقالة قدمها الكاتب فى الندوه العلمية  “اللغة العربية أهميتها و مستقبلها” بشعبة اللغة العربية فى كلية التربية بالجامعة الســـلامية الحكومية “ترناتى”  ملوكو الشمالبة اندونيسيا 10-12 دسمبر 2005م